Pasti diantara kalian mungkin mengenal sosok pria yang satu ini, tapi hanya saja enggak tau nama aslinya. Pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat? Ya, dia adalah Bang Gofar alias Supriatna Sujani. Banyak nilai moral yang harus kita ambil dari perjalanan hidup si Ja’ung {panggilan kecilnye}.
’’hidup itu butuh proses men..’’
Si Ja’ung lahir tanggal 1 februari 1969, di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Pria bontot dari tujuh bersaudara ini banyak menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Ia sangat aktif di Kampungnya, dari ngelenong, main drama, sanpai jadi pemandu sorak 17an pernah Ia cicipin Bahkan Ia juga pernah dipanggil ke acara sunatan untuk ngelucu para undangan yang hadir pada saat itu.
Pria jebolan STM Pembangunan ini pernah bergabung di Sanggar Betawi pimpinan Firman Mutakau. Otelo {Putus Cinta di Taman Monas} menjadi drama pertama yang dimainkannya. Bakat seninya pun mulai terasah semenjak bergabung di Sanggar Betawi. Setelah itu si Ja’ung banyak mengikuti pementasan drama di berbagai daerah di Jakarta.
‘’lu boleh mencoba, tapi jangan mau dikuasain sama barang itu..’’
Supriatna Sujani pernah tercatat sebagai mahasiwa di Institut Kesenian Jakarta {IKJ}, tapi enggak sampai lulus karena masalah klasik yaitu hambatan ekonomi. Terlepas dari itu semua, darah seni yang kental ala Betawi asli membuatnya terus berkembang. Pada tahun 1992-1993 Ia bergabung di Teater Arena dengan memainkan komedi bersahut-sahutan gaya Betawi tempo dulu. Di IKJ Ia banyak berkenalan dengan para seniman top lainnya seperti Iwan Fals dan Setiawan Djodi dan hal itu pula yang membuat namanya semakin dikenal. Ada sedikit cerita mengenai si Ja’ung dengan kedua Seniman top itu, yaitu sewaktu masih duduk di bangku kuliah dirinya pernah ngegele {menghisap ganja} bareng mereka. Haha, dengan gaya ngomongnya yang ceplas-ceplos Ia menceritakannya kepada saya.
’’Jakarta sempit tapi banyak diburu..’’
Pada tahun 1995 menjadi awal karir si Ja’ung, Ia bertemu Dedi Mizwar. Kemudian Ia ditawari bermain film. Lantas, Ia tidak menolak tawaran tersebut, film pertamanya pada saat itu berjudul Mata Angin dan honor pertamanya seratus lima puluh ribu rupiah. Setelah itu Ia banyak ditawari bermain film dan yang paling terkenal adalah saat bermain di film Kiamat Sudah Dekat, Ia berperan sebagai Bang Gofar.
Menurut si Penyuka gado-gado dan somai ini, berakting bukan hanya sekedar mencari materi saja tapi kepuasan batin lah yang paling utama. Ia pun berkata ’’kita hidup kaye maen film, karena kite jadi pemainnye, al-qur’an ibarat naskahnye, nah Allah sebagai sutradaranye’’. Artinya, manusia hidup bedasarkan naskah alias kitab suci Al-Qur’an dan manusia pun harus patuh pada Sang Sutradara yaitu Allah SWT.
Kisah asmara si Ja’ung cukup unik, Ia menyukai gadis berparas ayu yang bekerja di sebuah capsalon dekat rumahnya. Awalnya Ia tidak berani mendekati gadis tersebut apalagi berkenalan denganya. Sampai pada suatu hari Sang Ibu menyururuh si Ja’ung untuk menyukur rambutnya, Kemudian Ia bercermin dan berkata ‘’Ya Allah, kalaupun rambut saye harus dicukur, saye cuma mau dicukur sama si die’’. Entah apa yang membuat munajadnya terkabul dan hal itu pun terjadi.
Saat sedang dicukur oleh gadis pujaanya, si Ja’ung terus memandanginya. Sebaliknya, si Gadis pun sesekali merespon pandangan si Ja’ung dengan senyum manisnya. Mereka pun berkenalan dan Ia menyatakan cintanya kepada Sang Pujaan hati, kemudin mereka berpacaran. Setelah cukup lama berpacaran akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Rifki yang kini sudah berusia 17 tahun.
’’orang kecil jangan diinjek entar juga mati sendiri..’’
Dibalik kesuksesan si Ja’ung tidak terlepas dari sosok orang di belakangnya, yaitu Alm. Ibu Marsinah, Sang Ibu. Menurutnya. Beliau adalah seorang Ibu yang amat sangat luar biasa, saya diajarin tentang arti hidip yang sesungguhnya. Nasehat-nasehatnya masih nyantol di otak saye, yang paling saye inget Beliau pernah ngomong ‘’ punye duit enggak punye duit jangan triak’’. Wow. Mendengar sebait kata yang diucapkan oleh Alm. Ibu Marsinah, membuat saya mengerti bahwa hidup harus disyukuri.
Waktu pula yang memisahkan saya dengan si Seniman Betawi ini. Sebentar memang, hanya beberapa menit kita bertemu tapi begitu banyak nilai moral yang diberikan Beliau kepada saya.
’’si Manis jalan di rawa, beli sagu ke Cimone..
Jangan nangis jangan kecewa, tunggu aje ye terusannye..’’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar